PERBEDAAN PENGGUNAAN BAHASA INDONESIA SEKARANG DENGAN ZAMAN DULU

Penggunaan bahasa Indonesia pada saat ini berbeda dengan zaman dulu. Keadaan sekarang penggunaan bahasa Indonesia tidak seperti yang semestinya, artinya penggunaannya bukan lagi menggunakan bahasa Indonesia yang asli tetapi bahasa yang sudah terpolarisasi dan bahkan terkontaminasi dengan bahasa-bahasa kaum alay dan bahasa asing juga dicampuradukkan dengan bahasa daerah.

Dan banyak orang yang lebih bangga menggunakan bahasa asing dibandingkan dengan menggunakan bahasa Indonesia yang sudah jelas sebagai jati diri bangsa kita. Dari mulai kalangan menengah kebawah sampai menengah keatas, tak ubahnya yang digunakan dan diberdayakan hanyalah bahasa asing(Inggris) yang tinggi dengan rasa bangga dan gengsi yang melekat pada diri individualis-individualis tanah air.

Kemana bahasa Indonesia, bahasa persatuan dan kesatuan? Ya, hanyalah itu yang tersisa, pertanyaan yang sederhana yang sebentar lagi akan tergerus keruh, terkikis habis dengan globalisasi yang merajalela yang menyerang semua roda kehidupan bangsa kita dari mulai tempat umum, bangunan, apartemen, merek makanan dan hampir semuanya menggunakan bahasa asing tanpa dibubuhi terjemah(bahasa Indonesia).

Mungkin, mereka lebih bangga menggunakan bahasa asing, tetapi tanpa mereka sadari sebenarnya kita sedang berada diambang kehancuran dan bahkan, hilangnya bahasa Indonesia yang selama ini dijadikan bahasa persatuan tidak menutup kemungkinan akan hilang.

Mau dibawa kemana bangsa dan bahasa Indonesia ini? Bahasa Indonesia merupakan bahasa nasional yang menjadi identitas menuju pada suatu bangsa yang majemuk.

Kemajemukan itu merupakan gabungan dari unsur-unsur pembentukan identitas yaitu: suku bangsa, agama, kebudayaan, dan yang terakhir bahasa.

Perlu kita ingat!

Diatur dalam UU No.24 tahun 2009 Bab 3 Pasal 25 yang menjelaskan bagaimana bahasa Indonesia digunakan.

Lalu Pasal 28 UU No.24 tahun 2009:

“Presiden, wakil presiden dan pejabat negara wajib menggunakan bahasa Indonesia baik didalam maupun luar negeri.”

Pada kenyataannya, semua itu kurang berjalan sesuai dengan apa yang tertera pada pasal tersebut, terbukti setiap ada acara kenegaraan baik presiden, wakil presiden, dan para staf pejabat kenegaraan menggunakan bahasa asing(Inggris) dalam melakukan pidato kenegaraan. Padahal, bisa saja dengan menggunakan seorang penerjemah(translator) dalam artian, presiden, wakil presiden, beserta staf pejabat kenegaraan bisa menggunakan bahasa Indonesia dan diterjemahkan kedalam bahasa asing(Inggris) agar tamu kenegaraan bisa mengerti maksud yang disampaikan dalam pidato itu.

– Pasal 37 ayat 1.

“Bahasa Indonesia wajib digunakan dalam informasi tentang produk barang atau jasa produksi luar maupun dalam.”

Pada kenyataannya, dalam suatu produk makanan yang terdapat di salah satu minimarket di kota Bandung sama sekali tidak dibubuhi bahasa Indonesia, yang seharusnya itu digunakan dalam produk makanan impor Indonesia.

– Pasal 38 ayat 1.

“Bahasa Indonesia wajib digunakan dalam rambu-rambu umum, penunjuk jalan, fasilitas umum, spanduk dan alat informasi lain yang merupakan pelayanan umum.”

Dan lagi-lagi, ini terjadi pada penunjuk jalan yang ada pada setiap lorong pintu keluar gedung-gedung, yang tertera disitu adalah “EXIT”, mengapa tidak ditulis langsung dengan bahasa Indonesia “KELUAR”. Mungkin disitulah bentuk kurang sadarnya masyarakat terhadap apa fungsi dan begitu berharganya bahasa Indonesia itu.

About cindyhernawan

+62

Posted on 15/05/2015, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: